Senin, 29 April 2013

Kepemimpinan Rasulullah

Meneladani Kepemimpinan Rasulullah

zulchizar.wordpress.com foto
Foto dari zulchizar.wordpress.com

Banyak orang yang mengingat Maulid Nabi bukan pada hakikat mengingat kenabian Nabi Muhammad, tapi hanya sekadar mengingat kelahiran Muhammad yang waktu itu belum diangkat menjadi Nabi. Seharusnya, kalau memperingati Maulid Nabi, akan lebih tepatnya mengingat 22 tahun perjuangan Rasulullah membangun Islam. Jadi, mengingat Maulid Nabi itu bukan hanya ketika tanggal 12 Rabiul Awal saja, melainkan setiap hari.
Kurang lebih seperti itulah awal percakapan Salman Media ketika mewawancarai K.H. Saiful Islam Mubarak mengenai hakikat Maulid Nabi Muhammad 1434 H kemarin (25/1). Ditemui selepas mengisi siaran malam di MQ TV pukul 20.40. Tidak terlihat aura letih dari beliau yang sudah beraktivitas seharian tadi.
Beliau melanjutkan, selain mengingat kenabian Muhammad, kita juga perlu merenungi kemimpinan Rasulullah. Kepemimpinan yang ada pada Nabi Muhammad merupakan gerakan kalbu melihat kondisi masyarakat ketika zamannya. Muhammad Saw membaca kehidupan umatnya, sehingga sering melupakan keluarganya. “Tapi keluarganya sudah siap dengan hal tersebut, karena Rasulullah telah membina keluarganya terlebih dulu sebelum terjun memikirkan umat,” papar kyai yang biasanya dipanggil Ustaz Saiful ini.
Rasul saat ingin menghayati keadaan umatnya, sampai melakukan pengorbanan diri. Mulai dari berpergian jauh dari Mekkah, naik ke Gunung Jabal Nur, masuk ke dalam Gua Hira, lalu merenung di sana hingga saat wahyu Allah turun kepadanya. Tentunya hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Turunnya wahyu pertama kepada Rasul, ‘iqro, bismirabbikallazi khalaq’, merupakan wujud bimbingan Allah kepadanya. Ayat ini mengarahkan beliau membaca ciptaan-Nya dengan benar. “Jelas niat, jelas tujuannya. Tidak terpengaruh dengan apa yang ada di perjalanan,” timpal beliau menjelaskan bagaimana sosok pemimpin yang meneladani Rasul.
Mengingat Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat (Pilkada Jabar) yang akan berlangsung bulan depan, Salman Media merasa tergelitik untuk bertanya bagaimana pendapat ustaz yang dahulu sempat menjadi anggota DPRD Jawa barat ini. Beliau menjawab, sebelum memutuskan pilihan kepada salah satu calon, lakukanlah istikharah. Biar masyarakat serahkan kepada apa yang terbaik menurut Allah. Allah lebih tahu siapa yang lebih bagus untuk masa depan umat. Rasulullah Saw juga bersabda, “Tidak akan rugi orang yang mengerjakan istikharah dan tidak akan menyesal orang yang istisyarah (bermusyawarah).
Tentulah yang harus dipilih sebelumnya adalah pemimpin atau imam yang adil. Adil di sini berarti adil kepada Allah, masyarakat, dan dirinya sendiri. Selain itu, harus juga adil antara masalah dunia dan masalah akhirat. Banyak orang yang menilai adil itu sepihak, hanya dalam ranah materi saja. Padahal adil secara materi tanpa memperhatikan perbuatan rohani tidak dapat dikatakan sebagai adil.
Bahkan, Allah menjelaskan seperti apa sosok pemimpin yang akan membawa perubahan di dalam surat Ar-Ra’du ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”. Kata ‘anfus’ dalam ayat itu mengacu pada sesuatu yang ada di dalam diri manusia yang cenderung tak terlihat dan tak dapat terukur seperti akidah dan akhlaknya. Jadi, pemimpin yang dibutuhkan ialah pemimpin yang baik dalam lahir dan batinnya yang akan membawa perubahan dari sana.
Rasul juga menegaskan tentang rasa tanggung jawab seseorang sebagai pemimpin. Apabila setiap muslim merasa tanggung jawab, berarti ia akan siap menegur dan juga siap ditegur. Intinya, adanya ‘watawa saubil haq, watawa saubil sabr’ atau saling menasehati dan mengingatkan dalam jiwa pemimpin itu. “Rasul yang maksum saja masih meminta pendapat pada sahabat,” tutup K.H. Saiful Islam Mubarok mengakhiri percakapan dengan Salman Media. [GR]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar