Senin, 29 April 2013

KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN MASJID

BAB I
KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN MASJID
Kapemimpinan adalah terjemahan dari leadership. Kata leadership dari kata “T. Lead” yang artinya memimpin. Untuk kata pemimpin atau memimpin istilah: Imam, wali, atau auliya, ra’in. Kepemiminan melukiskan tanggung jawab yang harus diemban bagi setiap pemimpin. Dalam mengemban amanat kepemimpinan tersebut, pemimpin memiliki tipe atau gayanya sendiri.
  1. Gaya kepemimpinan otoriter atau otokrasi, artinya sangat memaksakan, sangat mendesakkan kekuasaanya kepada bawahan.
  2. Gaya kepemimpinan laissez faire, yakni sikap membebaskan bawahan.
  3. Gaya kepemimpinan situasional, yakni suatu sikap yang lebih melihat situasi, kapan harus bersikap memeksa, kapan harus moderat, dan kapan situasi apa pula pemimpin harus memberikan keleluasaan.
  4. Gaya kepemimpinan demokratis, artinya bersikap tengah antara memaksakan kehendak dan memberi kelonggaran kepada bawahan. 
  1. A. Ciri-ciri Kepemimpinan bertipe Otoriter
  2. Tanpa Musyawarah
  3. Tidak mau menerima saran dari bawahan
  4. Mementingkan diri sendiri dan kelompok
  5. Selalu memerintah
  6. Memberikan Tugas mendadak
  7. Cenderung menyukai bawahan yang ABS ( asal bapak senang)
  8. Sikap keras terhadapa bawahan
  9. Setiap keputusannya tidak dapat dibantah
  10. Kekuasaan mutlak ditangan pemimpin
10.  Hubungan dengan bawahan kurang serasi
11.  Kurang memiliki rasa kekeluargaan
12.  Sering marah-marah
13.  Senang sanjungan
  1. B. Ciri-ciri kepemimpinan bertipe Laissez-Faire:
  2. Pemimpin bersikap pasif
  3. Semua tugas diberikan kebawahan
  4. Tidak tegas
  5. Kurang memperhatikan kekurangan dann kelebihan bawahan
  6. Percaya kepada bawahan
  7. Pelaksanaan pekaerjaan tidak terkendali
  8. Kurang berwibawa
  9. Menghargai pendapat bawahan (orang lain)
  10. Kurang punya rasa tanggung jawab
10.  Kurang kreatif
11.  Kurang bermusnyawarah
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
  1. C. Ciri-ciri kepemimpinan bersikap situasional
  2. Supel atau luwes
  3. Berwawasan luas
  4. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
  5. Mampu menggerakkan bawahan
  6. Bersikap keras pada saat-saat tertentu
  7. Terbuka
  8. Bertanggung jawab
  9. Bersikap tegas
  10. Mau menerima kritik dan saran dari bawahan
  1. D. Ciri-Ciri kepemimpinan Demokratis
  2. Tenggang rasa
  3. Terbuka
  4. Tidak sombong
  5. Adil dan bijaksana
  6. Pemaaf pada bawahan
  7. Menciptakan suasana kekeluargaan
  8. Kurang mementingkan diri sendiri
  9. Tidak mudah putus asa
  10. Selalu mementingkan hal-hal yang penting
  11.  Tidak bersikap menggurui
  12. Komunikatif dengan bawahan
  13. Menghargai pendapat bawahan
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.


BAB II
KESIMPULAN
Berdasarkan tipe-tipe diatas, pemimpim masjid yang paling cocok adalah orang yang bertipe kepemimpinan situasioal. Figur dengan tipe itu akan mudah diterima masnyarakat dan oleh jamaahnya yang pada kenyataannya sangat berragam. Jamaah memerlukan pemimpin yang ngemong dan tidak kaku, yang afdol  diajak berbicara oleh lapisan social yang manapun.Tetapi Pada dasarnya gaya kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan masing-masing. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Drs. Mohammad E,  Ayub. Dkk. Manajemen Masjid. Gema Insani, :2007
  2. http://belajarpsikologi.com/tipe-tipe-kepemimpinan/

[1] Drs. Moh. ayub. Dkk. Manajemen Masjid. Hal 52-55
[2] Drs. Moh. ayub. Dkk. Manajemen Masjid. Hal 52-55
[5] . Drs. Moh. ayub. Dkk. Manajemen Masjid. Hal 52-55

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar