Senin, 29 April 2013

Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab

 Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab

19 Nov
PENDAHULUAN
Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut. Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir. Bermula dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya.
seorang pemimpin selain pola pikirnya dapat memberikan suatu perubahan, juga dapat memberikan pencerahan yang membawa perubahan, mengakar hingga lapisan nilai serta pola pikir, dan mengandaikan implikasi-implikasi pada tataran perilaku sehingga menjadi perilaku yang bernilai tinggi. Selain itu, seorang pemimpin yang memiliki sebuah tanggungjawab dan menanggung amanah kepemimpinan yang dipercayai oleh banyak orang, harus dapat menunjukkan kualitas sebagai pemimpin yang memiliki komitmen dalam menjalankan kewajiban moral.
Namun bukan berarti semua ini menjadikan pemimpin menjadi bersedih hati karena begitu berat amanah yang diembannya, karena bukan semua hal tersebut mustahil untuk didapatkan. Dengan mempelajari kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat dapat dijadikan teladan dan pelajaran bagi para pemimpin masa kini.
Allah bwrfirman dalam Q.S. Yunus ayat 62
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
            Oleh karena itu, pembahasan tentang kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat menjadi sangat penting untuk diangkat. Sehingga pelajaran yang sangat berharga dari para manusia pilihan ini dapat ditransformasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan kepemimpinan masa kini.





PEMBAHASAN
KEPEMIMPINEN RASULULLAH DAN SAHABAT
  1. A.    Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW
Pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang mamu memperjuangkan idealismenya dengan kerja keras bak layaknya seorang pemimpin. Pemimpin yang cerdas bisa dikatakan sebagai kompas bagi orang lain. Ia mampu bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya. Mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakan apa yang dipimpinnya menuju keadaan yang lebih baik. Keberhasilan seseorang pemimpin juga dapat dilihat dari seberapa jauh ia dapat memperluas pengaruhnya dalam masyarakat. Dalam masalah ini patutlah kita menengok seorang yang paling berpengaruh di dunia, yaitu Rasulullah SAW dalam menjalankan kepemimpinannya.
Rasulullah adalah sosok pemimpin ideal yang mempunyai sifat shidiq, amanah, tabligh fathanah. Keempat sifat ini harus terintegrasikan dalam jiwa seorang pemimpin, karena mutlak seorang pemimpin mempunyai sifat ini untuk menjalankan roda kepemimpinanya.
Pertama, Shidiq adalah sikap jujur dalam menjalankan kepemimpinan sehingga tidak ada rasa tak rela berada di bawah kepemimpinannya karena ia dianggap tidak menjalankan kepemimpinannya dengan benar,
Kedua, Amanah yaitu seorang pemimpin harus mampu memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang telah dipercayakan oleh segenap masyarakat kepadanya.
Ketiga, Tabligh adalah sikap transparan agar masyarakat mengetahui pula diskursus dalam pemerintahan sehingga dapat saling mendukung dan saling memberi masukan.
Keempat, Fathonah adalah sikap cerdas bukan hanya cerdas dalam berfikir, tapi juga cerdas dalam bersosial, bersikap dan bertindak.
Keempat sifat ini mutlak harus ada pada sosok pemimpin. Selain itu Rasulullah juga mempunyai 6 prinsip yang ia gunakan untuk berpikir dalam mengambil keputusan dari kepemimpinannya. Cara berpikir Muhammad saw yang lurus terlahir dari cara pandangnya yang juga lurus terhadap hidup dan kehidupan ini. Cara berpikir yang lurus tadi menghasilkan sebuah keputusan yang tepat sekaligus dapat diterima semua pihak. Enam prinsip dalam berpikir Rasulullah yaitu:
  1. Beliau menomorsatukan fungsi sebagai landasan dalam memilih orang atau sesuatu, bukan penampilan atau faktor-faktor luar lainnya. Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Beliau, yakni Abu Bakar Assidiq, Umar ibnu Khattab, Ustman ibnu Affan dan Ali ibnu Abi Tholib adalah gambaran jelas kemampuan Muhammad saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinan Muhammad saw, yaitu :
Abu Bakar Assidiq yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad saw, adalah sahabat utama. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin.
Umar ibnu Khattab bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Ini bermakna kekuasaan akan efektif apabila ditunjang oleh semangat pembelaan terhadap kebenaran dengan penuh keberanian dan ditunjang kekuatan yang memadai.
Ustman ibnu Affan adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad saw. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah pendanaan. Sebuah kepemimpinan akan lebih lancar apabila ditunjang kondisi ekonomi yang baik dan keuangan yang lancar. Dan juga dibutuhkan pengorbanan yang tulus dari pemimpinnya demi kepentingan orang banyak.
Ali ibnu Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. Kepemimpinan akan menjadi semakin kuat karena ada regenerasi. Tidak ada pemimpin yang berkuasa selamanya, dia perlu menyiapkan penerus agar rencana-rencana yang belum terlaksana bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
  1. Beliau mengutamakan segi kemanfaatan daripada kesia-siaan.
Tidak ada perkataan, perbuatan bahkan diamnya seorang Muhammad yang menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Pilihan terhadap kurma, madu, susu kambing dan air putih sebagai makanan yang bermanfaat untuk tubuh adalah salah satu contohnya. Bagaimana sukanya Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain adalah contoh yang lain.
  1. Beliau mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda.
Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat, maka beliau menyuruh untuk membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya.
  1. Beliau lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah, Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semua kaum Muslimin Makkah berangkat terlebih dulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah.
Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan : Bahwa barang siapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasulnya. Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau di mata kelompok-kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi.
  1. Beliau memilih jalan yang tersukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya
Apabila ada orang yang lebih memilih mempersulit diri sendiri dari pada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul. Begitu pun dengan Muhammad saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan shalat sampai bengkak kakinya.
Ketika dia menyampaikan perintah Allah Swt kepada umat untuk mengeluarkan zakat hartanya hanya sebesar 2,5 bagian saja dari harta mereka, dia bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan dan tidak menyisakan untuknya dan keluarganya, kecuali rumah yang menempel di samping mesjid, satu dua potong pakaian dan beberapa butir kurma atau sepotong roti kering untuk sarapan. Sampai-sampai tidurnya hanya di atas pelepah korma.
Seperti pernah dia bertanya kepada Aisyah ra. Istrinya apakah hari itu ada sepotong roti kering atau sebiji korma untuk dimakan. Ketika istrinya berkata bahwa tidak ada semua itu, maka Muhammad Saw mengambil batu dan mengganjalkannya ke perut untuk menahan lapar.
  1. Beliau lebih mendahulukan tujuan akhirat daripada maksud duniawi.
Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Muhammad Saw menunjukkan bahwa jalan akhirat itu lebih utama daripada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya ini. Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuan, maka tidak ada yang sanggup menggoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran. “Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.” Demikian Muhammad Saw berkata kepada para pemimpin Quraisy yang mencoba menyuap Muhammad Saw dengan harta benda, menjanjikan kedudukan tertinggi di kalangan suku-suku Arab dan juga menyediakan wanita-wanita cantik asalkan Muhammad Saw mau menghentikan dakwahnya di kalangan mereka. Pemimpin yang abadi cara berpikir dan pengaruhnya akan terus berjalan sampai akhir zaman.
  1. B.     Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab
Ketika para khalifah Rasyidin berkuasa sejak tahun 632 sampai 661 M  semua warganya yang  terdiri dari berbagai etnis dan agamanya diperlakukan sederajat sesuai dengan apa yang sudah diatur kitab suci, al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW. Dalam keberagaman tersebut, mereka tetap saling menghargai dan menghormati satu dengan lainnya seperti sudah disepakati bersama dalam Piagam Madinah. Semua ini tidak terlepas dari peran seorang pemimpin yang cerdas dan bijaksana, termasuk Kalifah Umar bin Kattab.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdul  Hakam dari Abu Shaleh al Ghifari, katanya “Pernah Amru bin Ash menulis surat kepada Umar bin Khattab yang berada dipusat pemerintahan  daulah islamiyah di Medinah yang isinya: “Telah kami bangunkan sebuah rumah tersendiri disekitar masjid  Al Jami’ di Mesir”. Maka Khalifah Umar bin Khattab segera membalas surat Gubernur Mesir ,Amru bin Ash tersebut dengan suaratnya: “Aku adalah seorang lelaki dari Hijaz, mana mungkin aku harus   memilih rumah di Mesir, karena itu hendaknya engkau jadikan rumah tersebut sebagai pasar  umum bagi umat secara keseluruhan”.
Dalam sejarah disebutkan bahwa, meskipun Umar bin Khattab sebagai  kepala negara yang wilayahnya sudah meliputi seluruh Semenanjung Arabia, Mesir, Iraq, Suriah dan sebagainya, namun Umar bin Khattab hidupnya sangat sederhana . Bahkan sebagai kepala negara, beliau hanya tinggal di Mesjid Nabawi bukan di istana, karena para khalifah Rasyidin tersebut tidak memiliki istana  sebagaimana dicontohkan oleh pendahulunya, Nabi Muhammad SAW.  Walaupun demikian, Umar bin Khattab  setiap mengangkat para pejabatnya ke berbagai daerah senantiasa dipantau dengan amat ketat. Sedangkan beliau sendiri sebagai khalifah seringkali melakukan inspeksi mendadak secara rahasia ke berbagai daerah kekuasaannya, untuk mengamati berbagai karakteristik para  pejabat sebagai bawahannya. Sebagai khalifah Rasyidin yang sudah merupakan suatu tradisi bahwa  mereka selalu menerima  gaji kemudian  mengembalikannya  ke baital mal. hal itupun selalu dilakukan oleh Umar bin Khatab.
Dalam konteks membersihkan jajaran birokrasinya  dari berbagai kejahatan terutama korupsi, khalifah Umar bin khatab secara  rahasia  dan  menyamar untuk mengintip kehidupan para gubernur dan pejabat lainnya. Dalam  sejarah pernah diceriterakan oleh Ibnul Mubaraq dan Ibnu Rahaweh  dan Musaddad  dari Itaab  bin Rifaa’, bahwa  “Ketika Umar  Ibnu Khattab mendengar berita bahwa Gubernur Kufah (Iraq), Sa’ad bin Waqash membangun sebuah istana yang berpintu tebal  dan Sa’ad pun sebelumnya pernah berkata;”Pintu ini akan memutuskan orang orang yang membutuhkan sesuatu”.Umar bin Khattab segera mengutus Muhammad bin Maslamah dan ia berpesan kepada Muhammad bin  Maslamah :”Pergilah ketempat Sa’ad  dan bakarlah pintu rumahnya”.Dan setibanya dikota Kuffah,maka segera Muhammad bin Maslamah membakar pintu rumah Gubernur Kuffah tersebut.Ketika Sa’ad bin Waqash mengetahui pintu rumah mewahnya dibakar,ia segera menghadap utusan Umar bin Khattab,Muhammad bin Maslamah.Lalu Sa’ad bin Waqash minta pertanggung jawabannya kepada Muhamad bin Maslamah,yang dijawab oleh utusan Umar bin khattab itu bahwa :”Sesungguhnya Umar Bin Khattab telah mendengar ucapanmu yang mengatakan :Bahwa sekarang telah terputus orang yang akan membutuhkan sesuatu ,namun Sa’ad bersumpah bahwa tidak pernah mengucapkan kata kata seperti itu.Kemudian Muhammad bin Maslamah berkata kepada Sa’ad bin Waqash bahwa:”Kami telah laksanakan apa  yang telah diperintahkan oleh Amirul Mukminin.Kemudian Sa’ad bin Waqash datang dengan membawa bekal untuk diberikan kepada Muhammad bin Maslamah ,tetapi hadiah tersebut ditolaknya  dan segera kembali ke Madinah.Dan ketika khalifah Umar bin Khattab melihat datangnya Muhammad bin Maslamah secepat itu maka Umar berkata:”Sesungguhnya  jika kami tidak berprasangka baik kepadamu tentunya kami tidak percaya bahwa kamu  melaksanakan tugas yang  aku berikan,alangkah cepat perjalananmu “.Muhammad bin Maslamah menjawab:”Apa yang kamu tugaskan kepadaku telah aku jalankan dan ia minta ma’af serta bersumpah degan nama Allah,bahwa ia tidak pernah mengucapkan ucapan seperti itu”.Kata Umar”Apakah dia menitipkan sesuatu padamu ?”.Jawab Muhammad bin   Maslamah: “Aku tidak ingin menerima titipan sesuatu daripadanya,sebab aku lihat walaupun negeri Iraq tanahnya  subur akan tetapi aku lihat penduduknya banyak yang mati karena  kelaparan ,sebab itu aku takut  jika ia menitipkan sesuatu untukmu sedangkan kamu yang mengenyam nikmatnya dan aku yang menanggung semua resikonya ,bukankah telah engkau dengar Rasulullah SAW bersabda:”Tidak boleh seorang mukminin kenyang sedang tetangganya kelaparan”.
Dalam  serangkaian   inspeksi rahasia dan mendadak lainnya ke negeri Syam(kini  Suriah) disebutkan  bahwa:Abu Darda minta izin kepada Umar bin Khattab untuk pergi ke Suriah,kata Umar:”Aku tidak akan  mengizinkan engkau kecuali jika engkau mau menjadi staff pemerintahanku disana”.Abu Darda menjawab:”Aku tidak mau menjadi staff pemerintahanmu disana”.Jawab Umar:”Kalau begitu aku tidak akan mengizinkan kamu pergi kesana”.Kemudian Abu Darda berkata:”Izinkan aku kesana untuk aku ajarkan kepada manusia  Sunnah Nabi mereka ,dan aku akan shalat bersama mereka”.Mendengar kata Abu Darda seperti itu,maka segera Khalifah Umar bin Khattab memberi  izin kepadanya.Dan Umar bin Khattab pergi juga ke Suriah menyusul Abu Darda ,dan ia tidak segera memasuki negeri tersebut.Baru menjelang magrib Umar secara rahasia memasuki negeri Syam(Suriah)bersama seorang pelayannya,Yarfa  yang secara bergiliran menunggang unta .Kadangkala Umar bin khttab yang menuntun unta,dan pelayannya yang menunggangi unta,serta begitulah  sebaliknya  secaa bergiliran diatur oleh beliau sendiri sebagai Amirul Mukminin.
Umar bin Khattab berkata kepada pelayannya,Yarfa ,mari kita pergi  kekediaman Yazid bin Abu Sofyan,lihatlah disana pasti kamu dapatkan sekelompok  orang yang bergadang dimalam hari dengan penerangan lampu dan   berbaring diatas hamparan kain sutra dari harta fa’i kaum muslimin,maka berikan salam kepadanya dan kalau ia  telah jawab salammu maka mintalah izin untuk masuk,tentu ia tidak akan memberi izin masuk sebelum   mereka menanyaimu:”Siapakah kamu ?”.Maka kami segera menuju rumah Yazid Bin  Abi  Sofyan dan Umar  bin Khattab berkata “Assalamualaikum”.Setelah  dijawab maka Umar bertanya:”Bolehkah aku masuk?”.Tanya Yazid “Siapakah engkau ?”Kata Yarfa :”Ini adalah orang yang akan menyusahkan kamu,ia adalah Amirul Mukminin”.Ketika pintu dibuka,maka apa yangdikatakan oleh Umar ternyata menjadi kenyataan,kemudian Umar segera menuju Yazid  dan memukulnya dengan cemeti dan ia segera mengumpulkan harta yang dirumah Yazid ditengah rumah,lalu ia berkata kepada orang orang yang berada dirumah Yazid:”Jangan kalian keluar dari tempat ini sebelum aku datang kepada kalian”.KemudianUmar bersama pelayannya,Yarfa segera  meninggalkan  kediaman Yazid   dan kemudian bergegas  menuju kediaman Amru bin Ash .Kata Umar:”Lihatlah di rumah Amru bin Ash ,pasti kamu dapatkan banyak orang bergadang malam ditempat itu”.Jika telah dijawab salammu ,maka ia tidak akan mempersilakan kamu masuk kerumahnya  sebelum ia mengetahui siapakah  kamu?”.Setelah ditanya siapakah kamu yang mengetuk pintu ,Yarfa berkata:”Yang mengetuk pintu adalah Amirul Mukminin ,dan ketika pintu dibuka  apa yang dikatakan Umar sebelumnya memang benar.Kemudian Umar segera mencambuk Amru dengan cemeti ,serta segera mengumpulkan harta benda yang ada dirumah amru bin Ash,lalu diletakkannya ditengah  rumah.Kemudian Umar berkata kepada orang orang yang ada dirumah Amru:”Jangan ada yang keluar dari tempat ini,kecuali sampai aku datang kembali kepada kalian”.Selanjutnya Umar mengajak Yarfa segera meninggalkan rumah Amru dan segera menuju rumah berkutnya,yakni rumah Abu Musa al Asy’ary,dan ketika  ia melihat  dirumah itu serupa dengan apa yang  dilihat dirumah Amru dan Yazid  sebelumnya,maka Umar bin khattab berkata:”Mengapa kamu lakukan sebagaimana mereka lakukan ?”Abu Musa menjawab:” Aku lakukan seperti apa yang dilakukan oleh kawan kawanku ,dikarena mereka katakan:”Tidak pantas bagi kami kecuali apa   yang telah kami  lakukan ,seperti apa yang kamu lihat”.Maka Umar segera mengumpulkan harta  harta dirumah   Abu Musa  al Asy’ary  dan meletakkannya ditengah rumah,lalu Umar berkata kepada semua orang yang ada di tempat itu:”Jangan ada yang keluar ,sampai aku kembali ketempat kalian.Kemudian bergegas keluar bersama Yarfa pergi menuju rumah  yang lain.Umar berkata :”Yarfa ,mari kita pergi kerumah saudaraku ,disana kamu pasti tidak melihat orang orang yang bergadang ditempat itu,dan tidak kamu dapatkan rumahnya berlampu,serta tidak pula ia menutup pintunya,pasti kamu dapatkan ia berbaring ditikar yang lusuh  dan melindungi dia dari dingin malam.Dan jika kamu minta izin,ia akan segera mengizinkan kamu masuk sebelum mennanya lebih dulu siapa yang datang kerumahnya.Ketika kami datang dan minta izin masuk,ia segera mempersilakan masuk.Dan Khalifah Umar bin Khattab segera mendorong pintu ,ternyata pintu memang tidak terkunci ,dan ketika masuk kami dapatkan rumah tersebut gelap gulita tanpa lampu penerangan.Dan tidak ada seorangpun yang bergadang dirumah itu,dan ketika Umar memeriksa rumah  tersebut ia dapatkan hanya sebuah tikar yang lusuh  dan bantal  yang rapuh ,sedangkan pakaianyang dipakaipun amat compang camping.Kata Abu Darda:”Siapa yang datang kemari ?”Jawab Umar:”Aku adalah Amirul Mukminin .Kata Abu Darda :”Sungguh lebih setahun kami nanti natikan  kedatanganmu “.Kata Umar:”Bukankah sudah aku cukupi  segala kebutuhnmu ?”Jawab Abu Darda:”Benar,kamu telah mencukupi aku  dengan baik,tapi tidakkah kamu pernah dengar Rasulullah SAW bersabda”:Tanya Umar  bin  Khattab :”Bagaimana bunyi sabda Nabi SAW itu ?.Abu Darda menjawab:”Rasulullah SAW telah bersabda:   “Hendaknya hidup seseorang dari kamu ini hanyalah sekedar untuk perbekalan dalam perjalanan saja,tidak bermewah mewah”.Kata Umar binKhattab:”Ya,memang aku telah mendengarnya “.Kemudian keduanya saling menagis sampai tiba waktu pagi.
Demikian sedikit gambaran tentang sosok sosok agung  yang  pernah dimiliki umat manusia ,dimana mereka meskipun sebagai negara yang hidup dengan sangat sederhana sebagaimana ditunjukkan oleh Abu Darda dan Khalifah Umar bin Khattab sendiri.Dalam menegaggakkan hukum beliau sangat tegas,meskipun kepada dirinya sendiri,keluarganya,serupa halnya dengan diberlakukannya kepada warga lainnya secara adil juga.Oleh sebab itu  dalam  birokrasi  seperti itu akan tercipta suatu  pemerintahan yang bersih,karena memang pemimpinnya bersih dalam berbagai aspek sosial kehidupannya.Dan untuk mengetahui berbagai perilaku pejabatnya,Umar bin Khatab senantiasa  melakukan  inspeksi rahasia dan mendadak yang tidak diberitahukan sebelumnya kepada  siapapun,   sehingga inspeksinya benar benar mendadak.Sekarang jikapun ada inspeksi mendadak yang dilakukan oleh pemerintah,pasti sangat mudah diketahui oleh orang lain karena inspektornya  tidak menyamar secara rahasia bahkan selalu diberikan lebih dahulu sebelum inspeksi dialakukan.Karenanya inspeksi tersebut tidak ada gunanya sama sekali,karena mudah dilacak oleh anak anak sekalipun apalagi oleh Gajus dan kroni kroninya ?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar