Selasa, 01 Oktober 2013

Dasar-Dasar perilaku nindividu, persepsi, dan pengambilan keputusan


BAB II
PEMBAHASAN
DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU, PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.    DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU
1.      Pengertian Perilaku Individu
            Perilaku individu merupakan suatu perilaku  seseorang dalam melakukan sesuatu atau cara ia bertindak terhadap sesuatu kegitan dengan menggunakan keterampilan atau otak mereka. Adanya keterampilan tidak terpisah dari latar belakang atau pengetahuan. Didalam suatu organisasi perilaku individu mencerminkan setiap perilaku manajer terhadap bawahannya dimana jika ia memperlakukan bawahannya  dengan baik maka suatu hubungan antara bawahan dan atasan terjalin dengan baik pula sehingga jalinan kerjasama didalam organisasi bisa berjalan dengan baik
Beberapa defenisi perilaku individu menurut para ahli diantaranya ialah:
1)      Menurut Martheen Luter individu berasal dari kata individum (latin) yaitu satuan kecil yang tidak dapatdibagilagi . individu menurut konsep sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri.
2)      Menurut Sofyandi dan Garniwa (2007) Perilaku individu adalah seesuatu yang dikerjakan seseorang, seperti  berbicara dengan manajer, mendengarkan rekan sekerja, menyusun laporan, mengetik memo, menempatkan unit barang kedalam gudang dan lain sebagainya.
3)      Menurut Viniagustia individu merupakan sebutan  yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Daapat disimpulakan bahwa individu adalalah unit terkecil dimana memeiliki ciri yang berbeda ditiap masing-masing individu.
4)      Gibson CS. (1996)  menyatakan perilaku individu adalah segala sesuatu yang dilakukan seseorang seperti: berbicara, berjalan, berfikir, atau tindakan dari suatu  sikap.[1]
Menurut Stephen P. Robbins dalam bukunya yang berjudul Perilaku Individu menyatahan bahwa suatu pemahaman  tentang perilaku bermula dari kajian mengenai kontribusi utama psikologis terhadap Perilaku Organisasi (OB). Kontribusi ini dibagi dalam empat konsep berikut: sikap, kepribadian, persepsi dan pembelajaran.
a.       Sikap
            Sikap (attitudes) merupakan pernyataan evaluatif baik yang menyenangkan maupun yang tidak tentang suatu objek, orang atau peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu ketika saya berkata “ Saya menyukai pekerjaan saya,” saya sedang mengekspresikan sikap saya tenteng pekerjaan.
            Seseorang bisa memiliki ribuan sikap, tetapi OB memfokuskan diri pada sikap yang berkaitan dengan pekerjaan. Hal ini meliputi kepuasan kerja, keterlibatan kerja (tingkat sejauh mana seseorang berkecimpung dalam pekerjaannya dan secara aktif berpartisipasi didalamnya), dan komitmen organisasi (sebuah indikator loyalitas kepada, dan keberpihakan terhadap organisasi). Tidak dapat dipungkiri, kepuasan kerja telah mendaptkan perhatian yang besar.
b.      Kepribadian
            Beberapa orang bersifat pendiam  dan pasif, sementara yang lainnya ceria dan agresif. Ketika kita menggambarkan orang dari  segi karakteristiknya, bisa pendoam, ceria, agresif, ambisiua, setia dan suka bergaul, kita sedang mengkategorikan mereka  dari segi sifat-sifat kepribadian. Karenanya kepribadian (personality) individu seseorang merupakan kombinasi  sifat-sifat psikologis yang kita gunakan untuk mengklasifikasikan orang tersebut. Para ahli psikologis telah mempelajari sifat-sifat kepribadian secara mendalam, dan mengidentifikasi enam belas sifat kepribadian utama.
c.       Persepsi
            Persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan  mereka. Riset tentang persepsi secara konsisten menunjukan bahwa individu yang berbeda dapat melihat yang sama tetapi memahaminya secara berbeda. Kenyataannya adalah bahwa tak seorangpun dari kita melihat realitas. Yang kita lakukan adalah menginterprestasikan apa yang kita lihat dan menyebutnya sebagai realitas.
d.      Pembelajaran
            Defenisi ahli psikologis tentang belajar benar-benar lebih luas daripada pandangan biarawan bahwa “inilah yang kita lakukan waktu kita disekolah dulu”. Pada  kenyataanya, masing-masing kita secara terus-menerus “ke sekolah”.  Belajar berlangsung selamanya. Oleh karena itu, defenisi belajar yang lebih akurat adalah segala perubahan perilaku yang relatif permanen dan terjadi sebagai hasil  dari pengalaman. [2]

2.      Metode Pembentukan Perilaku
Ada emapat cara untuk  membentuk periku menurut Stephen P. Robbins: lewat penguatan positif, penguatan negatif, hukuman dan pemunahan.
Bila suatu respons diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan,  respons itu disebut penguatan positif. Ini menggambarkan, misalnya  atasan yang memuji seseorang karyawan karena diselesaikannya suatu pekerjaan dengan baik. Bila suatu respons diikutu oleh dihentikannya atau ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, respon itu disebut penguatan negatif. Penghukuman akan mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak dalam suatu usaha untuk menyingkirkan suatu perilaku yang tidak diinginkan. Menskors selama dua hari (tanpa upah) seorang karyawan karena masuk kerja dalam keadaan mabuk merupakan suatu contoh penghukuman. Menyingkirkan penguatan apa saja yang mempertahankan suatu perilaku disebut emunahan (extinction). Bila perilaku itu tidak  diperkuat , perilaku itu lambat laun akan pudar dan punah.
Baik  penguatan positif atau  nagatif memberi  hasi dalam proses balajar. Penguatan ini memperkuat  suatu respons dan meningkatkan probabilitas pengulangan. Dalam ilustrasi-ilustrasi terdahulu, pujian itu diinginkan. Serupa pula dengan perilaku tampak sibuk diperkuat dan ditingkatkan oleh pengakhirannya terhadap konsekuensi yang tidak diinginkan berupa ditunjuk untuk menjawab oleh guru.
B.     PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU
1.      Persepsi
Menurut Miftah Thoha dalam bukunya yang berjudul perilaku organisasi konsep dasar dan aplikasinya mengatakan bahwa ppersepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya pencatatan yang benar terhadap situasi.[3]
Menurut Stephan P. Robbins yang telah dijelaskan padapenjelaasan sebelumnya mengenai prilkau individu dimana ia mengatakan bahwa  persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan  mereka. Riset tentang persepsisecara konsisten menunjukan bahwa individu yang berbeda dapat melihat yang sama tetapi memahaminya secara berbeda. Kenyataannya adalah bahwa tak seorangpun dari kita melihat realitas. Yang kita lakukan adalah menginterprestasikan apa yang kita lihat dan menyebutnya sebagai realitas.
Dari penjelelasan tersebut dapat disimpulakan bahwa pesepsi ialah suatu proses yang kompleks dan kognitif yang komplek dan menghasilkan suatu gambar yang unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dari kenyataan.[4]
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan persepsi seseorang, antara lain:
1)      Psikologi
Persepsi seseotang mengenai segala sesuatu di alam dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan Psikologi. Sebagai contoh, terbenamnya matahari diwaktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai bayang-bayang yang kelabu bagi seseorang yang buta warna. Atau suatu merdu Grace Simon yang menyanyikan lagu cinta, barangkalitidak menarik dan berkesan bagi seseoarang yang sulit mendengar atau tuli.
2)      Famili
Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orang tua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus didalam memahami dan melihat kenyataan didunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yang diturunkan kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu, tidak ayal lagi kalau orang tuanya Muhammadiyah akan mempunyai anak-anak yang Muhammadiyah pula. Demikian pula seorang anak dalam kampanye pemilu mendukung PDI, karena orang tuanya adalah tokoh Partai Demokrasi Indonesia tersebut.
3)      Kebudayaan
Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat didalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini. Pernah ada suatu penelitian di Amerika Serikat tahun 1947 dilakukan oleh Bruner dan Goodman dalam bidang psikologi sosial. Kedua peneliti ini meminta kepada anak-anak miskin dan kaya untuk menggambar bentuk uang ketengan (coin) 25 sen (a quater). Hasilnya menunjukan bahwa gambar uang ketengan tersebut bagi anak-anak miskin dilukis lebih besar dibandingkan dengan anak-anak kaya. Contoh lain dari pengaruh budaya dan lingkungan masyarakat tertentu ialah: orang-orang Amerika Serikat dengan bebas bisa makan daging babi dianggapnya daging babi adalah lezat. Tidaklah demikian bagi orang muslim Idonesia yang taat tidak akan mau makan daging babi yang lezat tadi untuk selama-lamanya.[5]
2.      Pengambilan Keputusan Individu
Setiap individu dalam organisasi membuat keputusan. Paara manajer puncak, sebagai contoh, menentuukan tujuan organisasi mereka, produk atau jasa yang akan ditawarkan, bagaimana sebaiknya mengorganisasikan kantor pusat perusahaan, atau dimana akan diletakkan pabrik manufaktur  baru. Manajer tingkat madya atau bawahan menentukan jadwal produksi, menyeleksi karyawan baru,, dan memutuskan seberapa besar kenaikan pembayaran dan dialokasikan. Namun demikian, pengambilan keputusan bukanlah wewenang tunggal manajer. Karyawan nonmanajerial juga mmembuat keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka dan organisasi tempat mereka bekerja. Keputusan mereka yang jelas meliputi apakah masuk kerja pada hari yang sudah ditentukan, beberapa banyak upaya yang dicurahkan ditempat kerja, dan apakah mengikuti permintaan yang dibuat oleh atasan.
Jadi, semua individu dalam setiap organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan, yaitu, mereka menentukan pilihan diantara dua atau lebih alternatif.[6]

Gaya pengambilan keputusan
Model gaya pengambilan keputusan  mengidentifikasikan empat perbedaan pendekatan individu dalam pengambilan keputusan. Model ini dirancang untuk digunakan oleh para manajer, tetepi kerangka umumnya dapat digunakan oleh pengambil keputusan individu manapun.
1)      Gaya perintah
Gaya ini memiliki toleransi yamg rendah terhadap ketidakjelasan dan mencari rasional. Mereka efesien dan logis. Namun, perhatian mereka tehadap efesiensi mengakibatkan pengambilan keputusan mereka hanya dengan informasi yang minimal dan hanya menilai sedikit alternatif. Gaya perintah membuat keputusan dengan cepat,dan mereka fokus pada jangka pendek.
2)      Gaya analitis
Jenis analitis memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ketidakpastian dari pada para pengambil keputusan perintah. Mereka menginginkan kebih banyak informasi dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif daripada tipe perintah.  Menajer analitis paling tepat dicirikan  sebagai pengambil keputusan yang hati-hati dengan kemampuan untuk mengadaptasi atau mengatasi situasi-situasi baru.
3)      Gaya konseptual
Gaya konseptual cenderung sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Fokus mereka adalah jangka panjang, dan mereka sangat baik dalam menemukan solusi kreatif terhadap suatu masalah.
4)      Gaya perilaku
Gaya perilaku mencirikan pengambilan keputusan yang bekerja baik dengan orang lain. Mereka memperhatikan pencapaian dari rekan kerja dan bawahan. Mereka mudah menerima saran dari orang lain dan sangat menyandarkan pada pertemuan untuk komunikasi. Tipe manajer ini mencoba meenghindari konflik dan mencaripenerimaan.[7]


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari penjelasan yang telah dijelaskan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Perilaku individu adalah suatu  perilaku  seseorang dalam melakukan sesuatu atau cara ia bertindak terhadap sesuatu kegitan dengan menggunakan keterampilan atau otak mereka. Adanya keterampilan tidak terpisah dari latar belakang atau pengetahuan. Didalam suatu organisasi perilaku individu meencerminkan setiap perilaku manajer terhadap bawahannya dimana jika ia memperlakukan bawahannya  dengan baik maka ssuatu hubungan antara bawahan dan atasan terjalin dengan baik pula sehingga jalinan kerjasama didalam organisasi bisa berjalan dengan baik
Dan persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tenyang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya pencatatan yang benar terhadap situasi.
Dan semua individu dalam setiap organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan, yaitu, mereka menentukan pilihan diantara dua atau lebih alternatif.
Adapun gaya penambilan keputusan yaitu:
1)      Gaya perintah
2)      Gaya analitis
3)      Gaya konseptua
4)      Gaya perilaku
B.     Kritik dan Saran
Dari sepanjang paparan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang terdapat dalam pembahasan makalah ini. Oleh sesab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan untuk kesempurnaan makalah ini dan makalah selanjutnya.







[1] www.wordpres. Com. Pembelajaran dan perilaku individu
[2] Stephn. P.Robbins,  Prinsip-prisip perilaku organisasi, hal. 35-50
[3] Miftah Thohah, Perilaku Organisasi kosepdasar dan aplikasinya, hal. 141-142
[4] Stephan. P.Robbins, Prinsip-prinsip perilaku organasi, hal. 46
[5] Miftah Thohah, Perilaku Organisasi kosepdasar dan aplikasinya, hal.147-148
[6] Stephan , P. Robbins. Prilaku Organisasi. Hal. 89
[7] Stephan , P. Robbins. Prilaku Organisasi. Hal.99-100

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar