Selasa, 01 Oktober 2013

Dasar-Dasar perilaku nindividu, persepsi, dan pengambilan keputusan


BAB II
PEMBAHASAN
DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU, PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.    DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU
1.      Pengertian Perilaku Individu
            Perilaku individu merupakan suatu perilaku  seseorang dalam melakukan sesuatu atau cara ia bertindak terhadap sesuatu kegitan dengan menggunakan keterampilan atau otak mereka. Adanya keterampilan tidak terpisah dari latar belakang atau pengetahuan. Didalam suatu organisasi perilaku individu mencerminkan setiap perilaku manajer terhadap bawahannya dimana jika ia memperlakukan bawahannya  dengan baik maka suatu hubungan antara bawahan dan atasan terjalin dengan baik pula sehingga jalinan kerjasama didalam organisasi bisa berjalan dengan baik
Beberapa defenisi perilaku individu menurut para ahli diantaranya ialah:
1)      Menurut Martheen Luter individu berasal dari kata individum (latin) yaitu satuan kecil yang tidak dapatdibagilagi . individu menurut konsep sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri.
2)      Menurut Sofyandi dan Garniwa (2007) Perilaku individu adalah seesuatu yang dikerjakan seseorang, seperti  berbicara dengan manajer, mendengarkan rekan sekerja, menyusun laporan, mengetik memo, menempatkan unit barang kedalam gudang dan lain sebagainya.
3)      Menurut Viniagustia individu merupakan sebutan  yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Daapat disimpulakan bahwa individu adalalah unit terkecil dimana memeiliki ciri yang berbeda ditiap masing-masing individu.
4)      Gibson CS. (1996)  menyatakan perilaku individu adalah segala sesuatu yang dilakukan seseorang seperti: berbicara, berjalan, berfikir, atau tindakan dari suatu  sikap.[1]
Menurut Stephen P. Robbins dalam bukunya yang berjudul Perilaku Individu menyatahan bahwa suatu pemahaman  tentang perilaku bermula dari kajian mengenai kontribusi utama psikologis terhadap Perilaku Organisasi (OB). Kontribusi ini dibagi dalam empat konsep berikut: sikap, kepribadian, persepsi dan pembelajaran.
a.       Sikap
            Sikap (attitudes) merupakan pernyataan evaluatif baik yang menyenangkan maupun yang tidak tentang suatu objek, orang atau peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu ketika saya berkata “ Saya menyukai pekerjaan saya,” saya sedang mengekspresikan sikap saya tenteng pekerjaan.
            Seseorang bisa memiliki ribuan sikap, tetapi OB memfokuskan diri pada sikap yang berkaitan dengan pekerjaan. Hal ini meliputi kepuasan kerja, keterlibatan kerja (tingkat sejauh mana seseorang berkecimpung dalam pekerjaannya dan secara aktif berpartisipasi didalamnya), dan komitmen organisasi (sebuah indikator loyalitas kepada, dan keberpihakan terhadap organisasi). Tidak dapat dipungkiri, kepuasan kerja telah mendaptkan perhatian yang besar.
b.      Kepribadian
            Beberapa orang bersifat pendiam  dan pasif, sementara yang lainnya ceria dan agresif. Ketika kita menggambarkan orang dari  segi karakteristiknya, bisa pendoam, ceria, agresif, ambisiua, setia dan suka bergaul, kita sedang mengkategorikan mereka  dari segi sifat-sifat kepribadian. Karenanya kepribadian (personality) individu seseorang merupakan kombinasi  sifat-sifat psikologis yang kita gunakan untuk mengklasifikasikan orang tersebut. Para ahli psikologis telah mempelajari sifat-sifat kepribadian secara mendalam, dan mengidentifikasi enam belas sifat kepribadian utama.
c.       Persepsi
            Persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan  mereka. Riset tentang persepsi secara konsisten menunjukan bahwa individu yang berbeda dapat melihat yang sama tetapi memahaminya secara berbeda. Kenyataannya adalah bahwa tak seorangpun dari kita melihat realitas. Yang kita lakukan adalah menginterprestasikan apa yang kita lihat dan menyebutnya sebagai realitas.
d.      Pembelajaran
            Defenisi ahli psikologis tentang belajar benar-benar lebih luas daripada pandangan biarawan bahwa “inilah yang kita lakukan waktu kita disekolah dulu”. Pada  kenyataanya, masing-masing kita secara terus-menerus “ke sekolah”.  Belajar berlangsung selamanya. Oleh karena itu, defenisi belajar yang lebih akurat adalah segala perubahan perilaku yang relatif permanen dan terjadi sebagai hasil  dari pengalaman. [2]

2.      Metode Pembentukan Perilaku
Ada emapat cara untuk  membentuk periku menurut Stephen P. Robbins: lewat penguatan positif, penguatan negatif, hukuman dan pemunahan.
Bila suatu respons diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan,  respons itu disebut penguatan positif. Ini menggambarkan, misalnya  atasan yang memuji seseorang karyawan karena diselesaikannya suatu pekerjaan dengan baik. Bila suatu respons diikutu oleh dihentikannya atau ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, respon itu disebut penguatan negatif. Penghukuman akan mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak dalam suatu usaha untuk menyingkirkan suatu perilaku yang tidak diinginkan. Menskors selama dua hari (tanpa upah) seorang karyawan karena masuk kerja dalam keadaan mabuk merupakan suatu contoh penghukuman. Menyingkirkan penguatan apa saja yang mempertahankan suatu perilaku disebut emunahan (extinction). Bila perilaku itu tidak  diperkuat , perilaku itu lambat laun akan pudar dan punah.
Baik  penguatan positif atau  nagatif memberi  hasi dalam proses balajar. Penguatan ini memperkuat  suatu respons dan meningkatkan probabilitas pengulangan. Dalam ilustrasi-ilustrasi terdahulu, pujian itu diinginkan. Serupa pula dengan perilaku tampak sibuk diperkuat dan ditingkatkan oleh pengakhirannya terhadap konsekuensi yang tidak diinginkan berupa ditunjuk untuk menjawab oleh guru.
B.     PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU
1.      Persepsi
Menurut Miftah Thoha dalam bukunya yang berjudul perilaku organisasi konsep dasar dan aplikasinya mengatakan bahwa ppersepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya pencatatan yang benar terhadap situasi.[3]
Menurut Stephan P. Robbins yang telah dijelaskan padapenjelaasan sebelumnya mengenai prilkau individu dimana ia mengatakan bahwa  persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan  mereka. Riset tentang persepsisecara konsisten menunjukan bahwa individu yang berbeda dapat melihat yang sama tetapi memahaminya secara berbeda. Kenyataannya adalah bahwa tak seorangpun dari kita melihat realitas. Yang kita lakukan adalah menginterprestasikan apa yang kita lihat dan menyebutnya sebagai realitas.
Dari penjelelasan tersebut dapat disimpulakan bahwa pesepsi ialah suatu proses yang kompleks dan kognitif yang komplek dan menghasilkan suatu gambar yang unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dari kenyataan.[4]
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan persepsi seseorang, antara lain:
1)      Psikologi
Persepsi seseotang mengenai segala sesuatu di alam dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan Psikologi. Sebagai contoh, terbenamnya matahari diwaktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai bayang-bayang yang kelabu bagi seseorang yang buta warna. Atau suatu merdu Grace Simon yang menyanyikan lagu cinta, barangkalitidak menarik dan berkesan bagi seseoarang yang sulit mendengar atau tuli.
2)      Famili
Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orang tua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus didalam memahami dan melihat kenyataan didunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yang diturunkan kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu, tidak ayal lagi kalau orang tuanya Muhammadiyah akan mempunyai anak-anak yang Muhammadiyah pula. Demikian pula seorang anak dalam kampanye pemilu mendukung PDI, karena orang tuanya adalah tokoh Partai Demokrasi Indonesia tersebut.
3)      Kebudayaan
Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat didalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini. Pernah ada suatu penelitian di Amerika Serikat tahun 1947 dilakukan oleh Bruner dan Goodman dalam bidang psikologi sosial. Kedua peneliti ini meminta kepada anak-anak miskin dan kaya untuk menggambar bentuk uang ketengan (coin) 25 sen (a quater). Hasilnya menunjukan bahwa gambar uang ketengan tersebut bagi anak-anak miskin dilukis lebih besar dibandingkan dengan anak-anak kaya. Contoh lain dari pengaruh budaya dan lingkungan masyarakat tertentu ialah: orang-orang Amerika Serikat dengan bebas bisa makan daging babi dianggapnya daging babi adalah lezat. Tidaklah demikian bagi orang muslim Idonesia yang taat tidak akan mau makan daging babi yang lezat tadi untuk selama-lamanya.[5]
2.      Pengambilan Keputusan Individu
Setiap individu dalam organisasi membuat keputusan. Paara manajer puncak, sebagai contoh, menentuukan tujuan organisasi mereka, produk atau jasa yang akan ditawarkan, bagaimana sebaiknya mengorganisasikan kantor pusat perusahaan, atau dimana akan diletakkan pabrik manufaktur  baru. Manajer tingkat madya atau bawahan menentukan jadwal produksi, menyeleksi karyawan baru,, dan memutuskan seberapa besar kenaikan pembayaran dan dialokasikan. Namun demikian, pengambilan keputusan bukanlah wewenang tunggal manajer. Karyawan nonmanajerial juga mmembuat keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka dan organisasi tempat mereka bekerja. Keputusan mereka yang jelas meliputi apakah masuk kerja pada hari yang sudah ditentukan, beberapa banyak upaya yang dicurahkan ditempat kerja, dan apakah mengikuti permintaan yang dibuat oleh atasan.
Jadi, semua individu dalam setiap organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan, yaitu, mereka menentukan pilihan diantara dua atau lebih alternatif.[6]

Gaya pengambilan keputusan
Model gaya pengambilan keputusan  mengidentifikasikan empat perbedaan pendekatan individu dalam pengambilan keputusan. Model ini dirancang untuk digunakan oleh para manajer, tetepi kerangka umumnya dapat digunakan oleh pengambil keputusan individu manapun.
1)      Gaya perintah
Gaya ini memiliki toleransi yamg rendah terhadap ketidakjelasan dan mencari rasional. Mereka efesien dan logis. Namun, perhatian mereka tehadap efesiensi mengakibatkan pengambilan keputusan mereka hanya dengan informasi yang minimal dan hanya menilai sedikit alternatif. Gaya perintah membuat keputusan dengan cepat,dan mereka fokus pada jangka pendek.
2)      Gaya analitis
Jenis analitis memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ketidakpastian dari pada para pengambil keputusan perintah. Mereka menginginkan kebih banyak informasi dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif daripada tipe perintah.  Menajer analitis paling tepat dicirikan  sebagai pengambil keputusan yang hati-hati dengan kemampuan untuk mengadaptasi atau mengatasi situasi-situasi baru.
3)      Gaya konseptual
Gaya konseptual cenderung sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Fokus mereka adalah jangka panjang, dan mereka sangat baik dalam menemukan solusi kreatif terhadap suatu masalah.
4)      Gaya perilaku
Gaya perilaku mencirikan pengambilan keputusan yang bekerja baik dengan orang lain. Mereka memperhatikan pencapaian dari rekan kerja dan bawahan. Mereka mudah menerima saran dari orang lain dan sangat menyandarkan pada pertemuan untuk komunikasi. Tipe manajer ini mencoba meenghindari konflik dan mencaripenerimaan.[7]


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari penjelasan yang telah dijelaskan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Perilaku individu adalah suatu  perilaku  seseorang dalam melakukan sesuatu atau cara ia bertindak terhadap sesuatu kegitan dengan menggunakan keterampilan atau otak mereka. Adanya keterampilan tidak terpisah dari latar belakang atau pengetahuan. Didalam suatu organisasi perilaku individu meencerminkan setiap perilaku manajer terhadap bawahannya dimana jika ia memperlakukan bawahannya  dengan baik maka ssuatu hubungan antara bawahan dan atasan terjalin dengan baik pula sehingga jalinan kerjasama didalam organisasi bisa berjalan dengan baik
Dan persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tenyang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya pencatatan yang benar terhadap situasi.
Dan semua individu dalam setiap organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan, yaitu, mereka menentukan pilihan diantara dua atau lebih alternatif.
Adapun gaya penambilan keputusan yaitu:
1)      Gaya perintah
2)      Gaya analitis
3)      Gaya konseptua
4)      Gaya perilaku
B.     Kritik dan Saran
Dari sepanjang paparan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang terdapat dalam pembahasan makalah ini. Oleh sesab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan untuk kesempurnaan makalah ini dan makalah selanjutnya.







[1] www.wordpres. Com. Pembelajaran dan perilaku individu
[2] Stephn. P.Robbins,  Prinsip-prisip perilaku organisasi, hal. 35-50
[3] Miftah Thohah, Perilaku Organisasi kosepdasar dan aplikasinya, hal. 141-142
[4] Stephan. P.Robbins, Prinsip-prinsip perilaku organasi, hal. 46
[5] Miftah Thohah, Perilaku Organisasi kosepdasar dan aplikasinya, hal.147-148
[6] Stephan , P. Robbins. Prilaku Organisasi. Hal. 89
[7] Stephan , P. Robbins. Prilaku Organisasi. Hal.99-100

Minggu, 08 September 2013

Nama      :RIRI GUSRIANI
NIM       :211.022
Fakultas  :DAKWAH

PERENCANAAN
ARTI PERENCANAAN MENURUT PARA AHLI
  1. Garth N.Jone, Perencanaan adalah suatu proses pemilihan dan pengembanngan dari pada tindakan yang paling baik untuk pencapaian tugas.
  2. M.Farland, Perencanan adalah suatu fungsi dimana pimpinan kemungkinan mengunakan sebagian pengaruhnya untuk mengubah daripada wewenangnya.
  1. Abdulrachman (1973), Perencanaan adalah pemikiran rasional berdasarkan fakta-fakta dan atau perkiraan yang mendekat (estimate) sebagai persiapan untuk melaksanakan tindakan-tindakan kemudian.
  2. Siagian (1994), Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penetuan secara matang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian yang telah ditentukan.
  3. Terry (1975), Perencanaan adalah pemilihan dan menghubungkan fakta-fakta, membuat serta menggunakan asumsi-asumsi yang berkaitan dengan masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu.
  4. Kusmiadi (1995), Perencanaan adalah  proses dasar yang kita gunakan  untuk memilih tujuan-tujuan dan menguraikan bagaimana cara pencapainnya.
  5. Soekartawi (2000), Perencanaan adalah pemilihan alternatif atau pengalokasian berbagai sumber daya yang tersedia.
FUNGSI PERENCANAAN
  1. Menjelaskan secara tepat tujuan-tujuan serta cara-cara mencapai tujuan.
  2. Sebagai pedoman bagi semua orang yang terlibat dalam organisasi pada pelaksanaan rencana yang telah disusun.
  3. Merupakan alat pengawasan terhadap pelaksanaan program.
  4. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan segala sumber daya yang dimiliki organisasi.
  5. Memberikan batas-batas wewenang dan tanggung jawab setiap pelaksanaan, sehingga dapat meningkatkan kerja sama/koordinasi.
  1. Menetapkan tolok ukur (kriteria) kemajuan pelaksanaan program setiap saat.
KESIMPULAN PERENCANAAN
Perencanaan adalah suatu proses pemilihan dan pemikiran yang menghubungkan fakta-fakta berdasarkan asumsi-asumsi yang berkaitan dengan masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan menguraikan bagaimana pencapaiannya.

Kamis, 20 Juni 2013

MANAJEMEN PENGELOLAAN MASJID (IDARAH)

MANAJEMEN PENGELOLAAN MASJID (IDARAH)




Oleh:
Muhammad Taslim, M.Ag
Dosen STAIN Al Fatah Jayapura
Ketika  Rasulullah SAW. membangun masjid, baik untuk yang pertama di Quba’ maupun di Madinah,  tidak hanya dimaksudkan untuk sarana beribadah kepada Allah SWT. semata.   Lebih dari itu masjid juga digunakan sebagai sarana  mencerdaskan umat, sebagai sarana  berkomunikasi antara umat dan sekaligus sebagai pusat kegiatan umat secara positif dan produktif.  Kondisi ini  kemudian juga dilestarikan oleh para  penggantinya (khulafa’ al-Rasyidun).   Namun seiring dengan  berlalunya zaman, masjid  mulai  ditinggalkan umatnya, kecuali hanya untuk  beribadah semata.  Masjid hanya dijadikan tempat untuk melaksanakan  shalat, pengajian dan kegiatan-kegiatan ke”agama”an saja. Kondisi inilah yang dapat kita lihat saat ini, termsuk di Indonesia. Barang kali termasuk masjid-masjid besar tingkat kabupaten/kota,  walaupun harus diakui sudah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh sebagaian umat Islam untuk menjadikan masjid tidak saja sebagai  sarana beribadah semata, tetapi juga  sebagai sarana kegiatan umat Islam yang lain, seperti kegiatan sosial, pendidikan, dan lainnya,  namun uapaya-upaya tersebut belum banyak dan maksimal.
Dalam rangka untuk melestarikan  dan mengembangkan masjid, kiranya  diperlukan pemikiran dan gagasan inovatif dan sekaligus kemauan semua pihak, terutama  para pengelolanya.
Mengelola masjid pada zaman sekarang ini memerlukan ilmu dan ketrampilan manajemen. Pengurus masjid (takmir) harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Di bawah sistem pengelolaan masjid yang tradisional, umat Islam akan sangat sulit berkembang. Bukannya tambah maju, mereka malahan akan tercecer dan makin jauh tertinggal oleh perputaran zaman. Masjid niscaya akan berada pada posisi yang stagnan, yang pada akhirnya bisa ditinggal oleh jamaahnya.
Manajemen terdapat dalam setiap kegiatan manusia, baik di rumah, di kantor, di pabrik, di sekolah, tidak terkecuali di masjid. Kaitannya dengan pembinaan masjid yang dapat difungsikan secara maksimal, setidaknya ada 3 bidang pembinaan yang harus dilaksanakan :
A.    Pembinaan bidang Idarah (manajemen)
Dengan luasnya fungsi masjid, maka pengelolaan masjid harus dilakukan dengan manajemen modern dan professional, jika masjid hanya dikelola secara tradisional maka masjid tidak akan mengalami kemajuan dan pada gilirannya akan tertinggal. Untuk itu perlu adanya manajemen masjid atau Idarah dengan meningkatkan kualitas dalam pengorganisasian kepengurusan masjid dan pengadministrasian yang rapi, transparan, mendorong partisipasi jamaah sehingga tidak terjadi penyalahgunaan wewenang di dalam kepengurusan masjid.
Idarah masjid disebut juga manajemen masjid, pada garis besarnya dibagi menjadi 2 bidang:
1.      Idarah binail maadiy (physical management)
Idarah binail maadiy adalah manajemen secara fisik yang meliputi: kepengurusan, pengaturan pembangunan masjid, penjagaan kehormatan, kebersihan, ketertiban dan keindahan masjid, pemeliharaan tata tertib dan keamanan masjid, penataan keuangan masjid, dan sebagainya.
2.      Idarah binail ruhiy (functional management)
Idarah binail ruhiy adalah pengaturan tentang pelaksanaan fungsi masjid sebagai wadah pembinaan umat, sebagai pusat pembangunan umat dan kebudayaan Islam seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Idarah binail ruhiy meliputi ini meliputi pengentasan bid`ah dan pendidikan aqidah Islamiyah, pembinaan akhlakul karimah, penerangan ajaran Islam secara teratur menyangkut:
a.       Pembinaan ukhuwah islamiyah dan persatuan umat;
b.      Melahirkan fikrul islamiyah dan kebudayaan Islam; dan
c.       Mempertinggi mutu ke-Islaman dalam diri pribadi dan masyarakat.
Tujuan Idarah Binail Ruhiy adalah:
a.       Pembinaan pribadi muslim menjadi umat yang benar-benar mukmin.
b.      Pembinaan manusia mukmin yang cinta ilmu pengetahuan dan teknologi.
c.       Pembinaan muslimah masjid menjadi mar’atun shalihatun.
d.      Pembinaan remaja atau pemuda masjid menjadi mukmin yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT
e.       Membina umat yang giat bekerja, tekun, rajin dan disiplin yang memiliki sifat sabar, syukur, jihad dan takwa.
f.       Membangun masyarakat yang memiliki sifat kasih sayang, masyarakat marhamah, masyarakat bertaqwa dan masyarakat yang memupuk rasa persamaan.
g.      Membangun masyarakat yang tahu dan melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya, masyarakat yang bersedia mengorbankan tenaga dan pikiran untuk membangun kehidupan yang diridhai Allah SWT.
Untuk keberhasilan maksimal dari idarah binail maadiy dan idarah binai ruhiy tersebut, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Management Kepengurusan
Guna menata lembaga ke-masjid-an harus diselenggarakan Musyawarah Jama’ah yang dihadiri umat Islam anggota jama’ah Masjid. Musyawarah tersebut dilaksanakan terutama untuk merencanakan Program Kerja dan memilih Pengurusan Ta’mir Masjid. Seluruh jama’ah bertanggungjawab atas suksesnya acara ini. Program Kerja disusun berdasarkan keinginan dan kebutuhan jama’ah yang disesuaikan dengan kondisi aktual dan perkiraan masa akan datang. Bagan dan Struktur Organisasi disesuaikan dengan pembidangan kerja dan Program Kerja yang telah disusun. Hal ini dimaksudkan agar nantinya organisasi Ta’mir Masjid dapat berjalan secara efektif dan efisisen dalam mencapai tujuan.
Dalam management kepengurusan, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

a.       Memilih dan menyusun Pengurus.

b.      Penjabaran Program Kerja.

c.       Rapat dan notulen.

d.      Kepanitiaan.

e.       Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) tahunan.

f.       Laporan Pertanggungjawaban Pengurus.

g.      Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

h.      Pedoman-pedoman organisasi dan implementasinya.

i.        Yayasan Masjid.

2.      Management Kesekretariatan
Sekretariat adalah ruangan atau gedung dimana aktivitas Pengurus direncanakan dan dikendalikan. Tempat ini merupakan kantor yang representatif bagi Pengurus. Sekretaris bertanggungjawab dalam menjaga kebersihan, keindahan dan kerapian sekretariat serta memberikan laporan aktivitas kesekretariatan. Disamping itu Pengurus, khususnya Sekretaris, juga berfungsi sebagai humas atau public relation bagi Masjid. Terkait dengan kesekretariatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

a.       Surat menyurat dan agendanya.

b.      Administrasi jama’ah.

c.   Fasilitas pendukung, seperti: komputer desktop, notebook, LCD projector, screen, printer, scanner, wireless sound system, megaphone, dan lain sebagainya.

d.      Fasilitas furniture, seperti: meja dan kursi tamu, almari arsip, meja kerja dan lain sebaginya.
e.       Lembar informasi, leaflet dan booklet.
f.       Papan pengumuman.
g.      Papan kepengurusan.
h.      Papan aktivitas.
i.        Papan keuangan.
j.        Karyawan Masjid.
3.      Management Keuangan
Administrasi keuangan adalah sistim administrasi yang mengatur keuangan organisasi. Uang yang masuk dan keluar harus tercatat dengan rapi dan dilaporkan secara periodik. Demikian pula prosedur pemasukan dan pengeluaran dana harus ditata dan dilaksanakan dengan baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a.       Penganggaran.
b.      Pembayaran jasa.
c.       Laporan keuangan.
d.      Dana dan Bank.
4.      Management Dana Dan Usaha
Untuk menunjang aktivitas Ta’mir Masjid, Bidang Dana dan Usaha berusaha mencari dana secara terencana, sistimatis dan terus menerus (continue) dari beberapa sumber yang memungkinkan, di antaranya adalah:
a.       Dana pemerintah.
b.      Donatur tetap.
c.       Donatur bebas.
d.      Kotak amal dan kaleng jum’at.
e.       Jasa, dan
f.       Ekonomi.
5.      Management Pembinaan Jama’ah
Salah satu kelemahan umat Islam adalah kurang terorganisir jama’ah Masjid-nya. Keadaan ini menyebabkan jama’ah kurang dapat memperoleh layanan yang semestinya dan sebaliknya dukungan merekapun menjadi kurang optimal. Kondisi ini sangat mendesak (urgent) untuk diperbaiki. Setelah Administrasi Jama’ah tertata dengan baik, maka dilanjutkan dengan upaya-upaya pembinaan di antaranya adalah:
a.       Shalat berjama’ah.
b.      Pengajian rutin dan pengajian akbar.
c.       Majelis Ta’lim Ibu-Ibu.
d.      Pengajian remaja.
e.       Tadarus dan bimbingan membaca Al Qur`an.
f.       Lembar Informasi.
g.      Ceramah, dialog dan seminar.
h.      Kunjungan (ziarah).
6.      Management Pendidikan dan Pelatihan
Pelayanan pendidikan dan pelatihan bagi jama’ah dapat dilakukan melalui sarana formal dan non formal. Pendidikan formal TK, SD, SLTP dan SLTA dapat dikelola oleh yayasan Masjid. Mengingat sekarang sudah banyak lembaga Islam yang menangani, maka keberadaan lembaga formal tersebut tidaklah sangat mendesak. Kecuali bilamana di tempat tersebut tidak ada, barangkali keberadaannya perlu untuk direalisasikan. Sebaiknya Pengurus Ta’mir Masjid berkonsentrasi dahulu dalam pengadaan lembaga-lembaga atau kegiatan pendidikan dan pelatihan non formal, antara lain:
a.       Perpustakaan Masjid.
b.      Taman Pendidikan Al Quraan (TPA).
c.       Up Grading Kepengurusan.
d.      Pelatihan Kepemimpinan.
e.       Pelatihan Jurnalistik.
f.       Pelatihan Mengurus Jenazah.
g.      Kursus Kader Da’wah.
h.      Kursus bahasa.
i.        Kursus pelajaran sekolah.
B.     Pembinaan Bidang Imarah (Memakmurkan Masjid)
Memakmurkan masjid menjadi kewajiban setiap muslim yang mengharapkan untuk memperoleh bimbingan dan petunjuk Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah surat At Taubah ayat 18:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Manakala idarah binail madiy dan idarah binail ruhiy berjalan secara maksimal, maka insya Allah masjid akan makmur dengan sendirinya. Makmur dalam artian, bahwa ia dapat berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu meliputi fungsi sebagai sarana atau tempat beribadah, sarana atau tempat pembinaan dan pencerahan ummat baik bidang pemahaman keberagamaan, pengetahuan umum, dan ekonomi ummat.
Di samping hal yang dikemukakan pada poin di atas, perlu juga diadakan hal-hal berikut :
1.      Management Kesejahteraan Umat
Apabila di suatu daerah belum ada Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ), Ta’mir Masjid dapat menerima dan menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah dari para muzakki atau dermawan kepada para mustahiq atau dlu’afa. Dalam hal ini, Pengurus bertindak selaku ‘amil zakat. Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat, infaq dan shadaqah biasanya semarak di bulan Ramadlan, namun tidak menutup kemungkinan di bulan-bulan lain, khususnya untuk infaq dan shadaqah.
Kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara transparan dan dilaporkan kepada para muzakki atau dermawan penyumbangnya serta diumumkan kepada jama’ah. Hal ini untuk menghindari fitnah atau rumor yang berkembang di masyarakat adanya penyelewengan dana zakat, infaq dan shadaqah oleh Pengurus.
Beberapa kegiatan lain yang dapat diselenggarakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat adalah:
a.       Sumbangan ekonomi.
b.      Bimbingan dan penyuluhan.
c.       Ukhuwah islamiyah.
d.      Bakti sosial.
e.       Rekreasi.
2.      Management Pembinaan Remaja Masjid
Remaja Masjid beranggotakan para remaja muslim, biasanya berumur sekitar 15-25 tahun. Kegiatannya berorientasi keislaman, keremajaan, kemasjidan, keterampilan dan keorganisasian. Memiliki kepengurusan sendiri yang lengkap menyerupai Ta’mir Masjid dan berlangsung dengan periodisasi tertentu. Organisasi ini harus dilengkapi konstitusi organisasi, seperti misalnya Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Pedoman Kepengurusan, Pedoman Kesekretariatan, Pedoman Pengelolaan Keuangan dan lain sebagainya. Konstitusi organisasi diperlukan sebagai aturan main berorganisasi dan untuk memberi arahan kegiatan.
Pengurus Ta’mir Masjid Bidang Pembinaan Remaja Masjid berkewajiban untuk membina dan mengarahkan mereka dalam berkegiatan. Namun pembinaan yang dilakukan tidak menghambat mereka untuk mengekspresikan kemauan dan kemampuan mereka dalam berorganisasi secara wajar dan bebas bertanggungjawab. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam upaya-upaya pembinaan Remaja Masjid antara lain:
a.       Kepengurusan.
b.      Musyawarah Anggota.
c.       Kegiatan.
d.      Bimbingan.
e.       Kepanitiaan.

C.    Pembinaan Bidang Riayah (Pemeliharaan Masjid)
Dengan adanya pembinaan bidang riayah, masjid akan tampak bersih, indah dan mulia sehingga dapat memberikan daya tarik rasa nyaman dan menyenangkan bagi siapa saja yang memandang, memasuki dan beribadah didalamnya. Sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an surat Al Imran ayat 97:


 “……barang siapa memasuki baitullah menjadi amanlah dia…”.
Bangunan, sarana pendukung dan perlengkapan Masjid harus dirawat agar dapat digunakan sebaik-baiknya serta tahan lama. Seiring dengan bertambahnya usia bangunan maka kerusakan akan timbul bahkan bagian tertentu dapat mengalami disfungsi atau kerusakan, seperti misalnya pintu, jendela, atap, dinding atau yang lainnya. Disamping itu kebutuhan jama’ah akan Masjid yang lebih luas agar dapat menampung jama’ah shalat yang lebih banyak juga semakin dirasakan. Tidak ketinggalan pula sarana-sarana pendukungnya seperti Perpustakaan, Sarana pendidikan formal, TPA, sarana ekonomi ataupun poliklinik keberadaannya semakin terasa diperlukan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
1.      Renovasi dan pengembangan bangunan Masjid.
2.      Kebersihan dan kesehatan.
3.      Pengaturan ruangan dan perlengkapan.
4.      Inventarisasi.